Selasa, 25 November 2008

PUISI HARI INI

bahasa kalbu menjalar lembut dan
piawai, membentang diatas
seuntai kertas putih penuh angur
mataku mabuk jangtungku lunglai
karena kata-katamu menjadi bait kebahagiaan
kau rangkai untukku jantungku berdendang
hingga kubaca berulang. melayang
rohku menari bersama paragraf
yang kau ciptakan


rindukupun berbuih meluap-luap
hasrat mencuat tak tertahankan
ingin kucium rasa sayang itu
dalam puisi hari ini kutitipkan
kembali, menguras sepi kemarau yang panjang.

Read more...

KUTAKAN KEMBALI

ketika hati tersayat-sayat
terherat dan sesak untuk bernapas
ingatan kerparat dirimu yang menyesakan, pun terbayang
bagai kecoa binal tertawa, berlabuh
dalam ketulusan ku sia-sia
meronta, bersujud, mengemis dalam permohonan.
dan kini dirimu nakal dalam pandanganku.


matahari kasih sayang telah redup
dalam alunan lagu
namamu hlang tersirami hujan prilaku
bodoh, berlumut dalam karang tampa sinar
menciut dalam jiwa hitamku
tampa kasih, tampa sayang

ritme diary yang kutulis
diujung paraf dan tanggal menghilang
tampa bekas, dan aku sekarang enggan mengejar.

Read more...

Rabu, 19 November 2008

AIRMATA RASULULLAH SAW

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam,

" kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian
maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan
Rasulullah mulai ding! in, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah
orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

NB:
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai
Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.
Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin...
Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangi mu di dunia
tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu diakhirat.

Read more...

KEYBOARD (untuk Die'ah atha)

sahabat,
beribu bahasa telah kita ciptakan sendiri
mengalir disetiap cerita,
tumbuh subur dan berbunga, lepas
dengan ketukan pararel keyboard
tersampaikan kisah
walau menembus menelusuri dunia.

sahabat, kisah itu menjelma
warna-warni bahasa nan indah
disetiap kabar terselip pesan
termanggu aku pada penggalan kalimat
disana. banyak bahasa hinggap
memutih, menyirami kedewasaan,
tumbuh semangat, terbuang aral

kau tak pernah bosan
walau berulang kuceritakan kisah mentari itu
berulang pula kubaringkan dipundakmu kisah kepenatan
kalimatmu terus berbahasa
penuh semangat!

sahabat,
mari, aku bahagia berlayar dengan mu
berbagi kisah. hingga kita bisa menciptakan dunia sendiri
sesungguhnya aku selalu rindu melakukan prosesi itu?
mari, kita rangkai kalimat lagi.
pada pararel keyboard kita titipkan.

Read more...

SITUGUNUNG

I

diantara danau dan pepohonan
burung-burung berkicau meneguk sisa embun dipucuk daun muda
kita berada disana dipesisir danau situgunung.
diatas sebuah tikar kasih sayang
kau rebahkan lelah, lembut didadaku
berbenderakan janji-janji setia.

riak belaimu bergelombang
perlahan menjalar disela-sela rambut
jatuh aku penuh kebahagiaan
mendengar ceritamu milikku seorang
sesaat kulihat air danau jernih kebiru-biruan memantulkan cahaya
wajahmu yang anggun begitu indah terlukiskan
bersama ku yang berjaga tuk setia
kuteriak menyebut namamu, mengema
alam dan seisinya menyambut riang mengulang nama.

II

dibawah garduh
beratap ranting dan daun-daun tua
kita duduk menatap indahnya alam
sahdu gemericik hujan
terpaan angin lembut menyambut
halus, kita lukiskan sebuah cerita
pada lorong-lorong cahaya diselipan
belukar rindang daun kebagahiaan.

matahari mulai menghilang
kita masih terdiam saling menghangatkan
dan dentuman-dentuman kepercayaan berdetak
sesaat lalu bergetar
berdua kita tampa jarak
melukis pada jiwa
bengan jari
berpelurukan kesetiaan
aku jatuh berlabuh didadamu.

III

waktunya pulang sayang,,, "ku ucapkan"
pada jalan yang berliku
sepi, hening, kita melangkah
jantungku terus berdekup kencang
pada setiap simpang kau beri kenangan
mesra, seakan enggan kau tuk berpisah
lihat, "kataku" dalam ketinggian
diatas gunung situgunung
hamparan pesawahan, perumahan dan kota
kita saksikan
andai aku bisa melukis "katamu"
ingin mengambarkan semua ini
dan disana ditanah luas pesawahan
membangun rumah luas dikelilingi aneka bunga
dengan halaman yang luas ditanami rumput hijau
serta dua orang anak yang bermain disana.

"sayang kita harus pulang tinggalkan tempat ini"

IV

Kedai Tua,
ku teguk sisa kenangan bersamamu
diantara sisa-sisa waktu perpisahan
sebatang rokok yang telah aku lupakan
kuhisap dalam-dalam dan kini mengepul dan bergelombang
menutpi awan,
kitapun berpisah dengan kenangan dan waktu
tampa menyebutkan tanggal kapan kita berjumpa lagi
kau tingalkan aku
dan kini kau pergi dengan kendaraan melaju kencang
warna langit menjadi kelabu
aku berdiri dengan sejuta kenangan
berawan keindahan.

Read more...

Selasa, 04 November 2008

KABUT RINDU

pintu hati terbuka lebar
mengucapkan salam selamat datang sayang!
bersua dengan mu adalah mukzijat terindah
membekukan kelam, hadir keindahan
tersibak hitam. disana, serba putih
ruang pertemuan.
terbelit tangan dan dekapan semakin kencang
tirai menari oleh lembutnya angin
arusmu semakin kencang
bernot do-la-do didadaku
tetesan rindu menjelmakan salju
berjatuhan lembut diubun-ubun kasih sayang
hingga larut mulut terkatup
kita jatuh dalam ruang rindu.

duhai kekasihku!
tiap kau sentuh bibir rinduku
aliran darah memuncak menari diatas pelangi
tercekat mataku pada bulan
seakan enggan adanya perpisahan
aku terdiam. mutiara kata-kata menghilang
karena bersua pada garis lurus matamu
sejuk, lembut, dan berkilauan

maafkan aku,
telah membuat dirimu terkatung dalam kesendirian
jauh berlari dan terbang dalam waktu yang panjang
sesungguhnya sukmaku
pun berpijar dalam kesepian-kesepian lainnya
menanti kabar diselat rimbaku
membunuh keputusasaan, dan
kini kau kembali dalam rindu
bertaburan cahaya salju kerinduan
memutihkan mataku.
bahagia dalam peluk dan dekapan hangat
milikku dan milikmu seorang.

Read more...

Senin, 03 November 2008

PERJALANAN PANJANG SEORANG IBU #1#

Ibu, langkahmu letih menuju puncak pengharapan.
walau jurang bebatuan panas berlahar makian
menghujam, cibir-cibir hina
disela berita perjalanan kau seorang.

jalanan kota, bumbu-bumbu dan aneka warna
tersaji, dalam bising laju kereta nasibmu berlayar
pecahkan malam.
matamu masih bersinar: demi sekaleng susu,
sesuap nasi, buku-buku dan bekal anakmu diperantauan.

Ibu, laju waktu terus berputar,
kumparan mesin melaju kencang
debu-debu berterbangan
mendarat dijidatmu, mengerut
lusuh dan berkarat.

perjalananmu belum juga usai!

menyusuri cahaya dikegelapan
lalu hinggap aral dan rintangan menembus
cahaya kesabaran, kau tetap bertahan.
meski lelah nenetas merayapi kulit
jatuh dan tersungkur dalam kejam pencarian nafkah tak berujung
tak ada keluh yang tersampaikan
dalam cermin wajahmu. Ibu,

deru kereta terus melaju,
melewati kota bernama.
sementara aku duduk dikursi jeruji kesombongan
mendekur pulas mengukir hidup dengan membalikan tangan.

Read more...

PERJALANAN PANJANG SEORANG IBU #2#

Ibu, kakimu masih melangkah meski kulit keriput
tertelan usia, mengayuh langkah tanpa iba
memikul beban pada malam,
hingga malam berikutnya belum tentu usai.
dari gerbong ini, kau lukiskan indahnya perjuangan
meski wajahmu telah keriput, kumal dan menakutkan
ditujuh malam yang belum terpecahkan
semangatmu terus berkobar membahana. demi,
tunggakan cicilan dirumah gadai,
hutang kolektor yang tidak juga usai,
serta kebanggaan:
anakmu duduk dalam pendidikan yang mahal.
kau tetap berjuang membelah cadas terjal menjulang.

Ibu, malam-malammu suci tak ternoda
oleh lambaian tangan kotor dan air mata
hanya sebungkus nasi kau tukar dengan angka-angka!

distation berikutnya,
aku pergi menghilang
menoleh kembali kereta yang melaju kencang
bersamamu yang masih tertinggal, Ibu.
barang kali masih ada orang lain
yang memaknai perjalananmu
singah dan menepi di ulu-ulu hati
menempel pada alam penyadaran.

diujung perpisahan,
tanpa salam,
dibait puisi aku berdoa.
aku kecup tanganmu dalam banyang
semoga kelak perjuangan berakhir
sesuai dengan harapan.

Read more...

MIMPI DALAM PENANTIAN

sepucuk bunga mawar
merah, merekah menebar pesona
dalam jantungku. Sayang!

wahai belahan jiwa.
janji abadi, pada purnama kusampaikan
demi dirimu yang pertama dan yang terakhir

kesungguhan, kujadikan keyakinan
bila bertolak dihatimu
kini, kutakan mengulang tuk meminta
walau perih menjadi akhir kisah

pada pucuk bunga mawar, kuisyaratkan?
namun, bila jiwa tak dapat berlabuh
peluklah? bila ada jiwa lain yang searah

dengarkanlah mimpiku sayang!
bersamamu membangun istana, dengan
warna-warni cahaya berlepasan diudara
membangkitkan gairahku yang runtuh
walau jiwamu tak dapat kusentuh, tapi
sinar cahayamu membayangi
bertaburan dalam sebuah pengembaraan
terombang-ambing aku dalam lautan penantian.

Read more...

nengok IP

  © Blogger template The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP