Senin, 03 November 2008

PERJALANAN PANJANG SEORANG IBU #2#

Ibu, kakimu masih melangkah meski kulit keriput
tertelan usia, mengayuh langkah tanpa iba
memikul beban pada malam,
hingga malam berikutnya belum tentu usai.
dari gerbong ini, kau lukiskan indahnya perjuangan
meski wajahmu telah keriput, kumal dan menakutkan
ditujuh malam yang belum terpecahkan
semangatmu terus berkobar membahana. demi,
tunggakan cicilan dirumah gadai,
hutang kolektor yang tidak juga usai,
serta kebanggaan:
anakmu duduk dalam pendidikan yang mahal.
kau tetap berjuang membelah cadas terjal menjulang.

Ibu, malam-malammu suci tak ternoda
oleh lambaian tangan kotor dan air mata
hanya sebungkus nasi kau tukar dengan angka-angka!

distation berikutnya,
aku pergi menghilang
menoleh kembali kereta yang melaju kencang
bersamamu yang masih tertinggal, Ibu.
barang kali masih ada orang lain
yang memaknai perjalananmu
singah dan menepi di ulu-ulu hati
menempel pada alam penyadaran.

diujung perpisahan,
tanpa salam,
dibait puisi aku berdoa.
aku kecup tanganmu dalam banyang
semoga kelak perjuangan berakhir
sesuai dengan harapan.

nengok IP

  © Blogger template The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP